Ringkasan: Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 dari IDN Research Institute mencatat 70 persen responden Gen Z sering membandingkan hidupnya dengan orang lain secara daring. Pada milenial angkanya 58 persen. Temuan ini mengukur pengakuan responden, bukan hubungan sebab-akibat. Data lapangannya juga sudah berusia sekitar dua setengah tahun.
Apa Itu Temuan “70 Persen Gen Z Sering Membandingkan Diri”?

Temuan ini berasal dari Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 yang disusun IDN Research Institute. Sebanyak 70 persen responden Gen Z mengaku sering membandingkan hidup mereka dengan orang lain secara daring. Menurut ringkasan Good News From Indonesia (GNFI), kebiasaan ini memperburuk rasa cemas dan depresi. Pada responden milenial, angkanya 58 persen.
Membandingkan diri bukan hal baru. GoodStats mencatat kebiasaan itu sudah ada sebelum media sosial muncul. Bedanya, media sosial membuat kehidupan orang lain tampil terus-menerus dalam bentuk yang sudah dipilih dan dirapikan.
Artikel ini membedah angkanya satu per satu. Anda akan tahu dari mana data itu berasal, apa batasnya, dan angka mana yang sering tertukar dengan angka lain. Di bagian akhir ada langkah praktis yang bisa langsung dipakai.
Mengapa Temuan Ini Penting di 2026?

Gen Z adalah kelompok penduduk terbesar di Indonesia. Data BPS 2020 yang dikutip Publicanews menempatkan Gen Z di angka 27,94 persen dari populasi. Sumber akademik yang merujuk BPS 2021 mendefinisikan Gen Z sebagai mereka yang lahir pada 1997โ2012.
Artinya, perilaku daring kelompok ini menyentuh sekolah, kampus, tempat kerja, dan pasar konsumen sekaligus. Satu kebiasaan yang dialami mayoritas dari mereka layak dibaca dengan teliti.
Skala medsosnya juga besar. Laporan Digital 2026: Indonesia dari We Are Social mencatat 180 juta identitas pengguna media sosial. Kami membahas selisih angka durasinya di ulasan tentang dua angka durasi media sosial yang tampak bertentangan.
Ada satu alasan lagi kenapa topik ini muncul kembali. GNFI menerbitkan ringkasan temuan ini pada 19 Juni 2026. Padahal sumbernya laporan yang diluncurkan IDN pada 2024. Angka lama yang diterbitkan ulang sering terbaca seperti data baru.
Dari Mana Angka 70 Persen Itu Berasal?

Laporan ini dikerjakan IDN Research Institute dengan Populix sebagai mitra riset, menurut IDN Times. Laporan itu diluncurkan pada Indonesia Millennial and Gen-Z Summit 2024.
Ringkasan akademik dari BINUS menyebut survei lapangannya berlangsung pada Mei 2024. Jumlah respondennya 750 untuk milenial dan 750 untuk Gen Z, tersebar di 12 daerah. Kami memakai ringkasan BINUS karena file laporan asli terlalu besar untuk dibuka dan diperiksa langsung.
Jalur penyebaran angkanya begini:
- IDN Research Institute merilis laporan lengkap.
- GoodStats mengangkat satu temuan menjadi artikel data.
- GNFI menulis ringkasan yang lebih luas pada 19 Juni 2026.
Setiap tahap memadatkan konteks. Pertanyaan asli dan skala jawabannya biasanya hanya ada di laporan, bukan di ringkasan media.
Catatan transparansi: Kami tidak bisa membuka halaman pertanyaan survei di laporan asli. Kata “sering” pada angka 70 persen mengikuti rumusan GoodStats dan GNFI. Untuk kutipan formal, rujuk langsung PDF laporan IDN.
Data Kunci: Gen Z dan Milenial Berdampingan
Tabel berikut merangkum angka yang konsisten di sumber yang kami baca. Semuanya dilaporkan responden sendiri.
| Indikator | Gen Z | Milenial | Sumber |
| Sering membandingkan hidup dengan orang lain secara daring | 70% | 58% | IDN Research Institute via GoodStats dan GNFI |
| Merasa standar di medsos merusak harga diri dan kesehatan mental | 55% | 65% | IDN Research Institute via GNFI |
| Sulit berhenti membandingkan diri | 30% | 42% | IDN Research Institute via GoodStats dan GNFI |
| Merasa lelah akibat paparan konten negatif (doomscrolling) | 72% | 60% | IDN Research Institute via GNFI |
| Sulit melepaskan diri dari konten medsos | 28% | 40% | IDN Research Institute via GNFI |
GNFI juga menulis angka soal ketergantungan pada validasi lewat like dan komentar. Namun artikelnya memuat dua versi untuk Gen Z, yaitu 52 persen dan 68 persen. Karena tidak konsisten, kami tidak memakai angka itu sampai bisa dicek di laporan asli.
Analisis Redaksi: Apa Arti Selisih Angkanya?
Catatan metode: Bagian ini adalah hitungan redaksi dari angka publik di atas. Ini bukan survei baru dan hasilnya berupa estimasi kasar.
| Hitungan | Cara hitung | Hasil |
| Selisih Gen Z dan milenial dalam kebiasaan membandingkan | 70% dikurangi 58% | 12 poin persentase |
| Selisih dalam kesulitan berhenti | 42% dikurangi 30% | 12 poin, arahnya terbalik |
| Perkiraan jumlah responden Gen Z yang sering membandingkan | 70% dari 750 | sekitar 525 orang |
| Perkiraan jumlah responden milenial yang sering membandingkan | 58% dari 750 | sekitar 435 orang |
| Kisaran galat sampel acak sederhana pada n=750 | 1,96 ร akar (0,25/750) | sekitar ยฑ3,6 poin |
Pola yang paling menarik: Gen Z lebih sering membandingkan diri, tetapi lebih sedikit yang merasa sulit berhenti. Milenial sebaliknya.
Sumber yang kami baca tidak menjelaskan alasannya. GoodStats hanya menyebut perbedaan karakteristik diri kedua generasi dan perlunya kontrol diri. Dua kemungkinan penjelasan muncul dari pola ini, dan keduanya hipotesis, bukan temuan:
- Gen Z mungkin menganggap membandingkan diri sebagai hal wajar, sehingga tidak merasa perlu “berhenti”.
- Milenial mungkin lebih sadar akan dampaknya, sehingga lebih sering merasa gagal mengendalikannya.
Soal ketelitian angka, kisaran ยฑ3,6 poin hanya berlaku untuk sampel acak sederhana. Survei daring jarang memenuhi syarat itu. Jadi anggap angka tadi patokan kasar. Selisih 12 poin tetap cukup lebar untuk dianggap pola yang nyata di dalam sampel ini.
Apakah Membandingkan Diri di Medsos Memicu Kecemasan?

Jawaban jujurnya: data yang ada menunjukkan keterkaitan, belum membuktikan sebab-akibat. Responden melaporkan bahwa kebiasaan ini memperburuk perasaan mereka. Laporan diri semacam itu berguna, tetapi tidak sama dengan uji yang melacak orang yang sama dari waktu ke waktu.
Riset lain memberi gambaran serupa dengan batas yang sama. CNBC Indonesia, mengutip survei McKinsey Health Institute 2022 terhadap lebih dari 42 ribu responden di 26 negara, melaporkan dua hal. Lebih dari sepertiga responden Gen Z memakai media sosial lebih dari dua jam sehari. Mereka yang melewati batas itu cenderung punya kondisi kesehatan mental lebih buruk.
Pada responden perempuan Gen Z, laporan itu mencatat FOMO dan kekhawatiran citra tubuh masing-masing 32 persen sebagai dampak negatif medsos. Responden dari Asia melaporkan dampak negatif lebih rendah (19 persen) dibanding Eropa dan Oseania (32 persen).
Konteks kesehatan mental remaja Indonesia datang dari I-NAMHS 2022, yang dikutip KemenPPPA pada Juli 2026:
- 34,9 persen remaja usia 10โ17 tahun (sekitar 15,5 juta) mengalami satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
- 5,5 persen (sekitar 2,45 juta) mengalami gangguan mental.
- Kecemasan menjadi masalah yang paling banyak dialami, yaitu 26,7 persen.
Dosen Psikologi UNAIR menjelaskan bahwa “masalah” dan “gangguan” itu berbeda. Gangguan berarti seluruh kriteria klinis terpenuhi. Masalah berarti ada persoalan, tetapi belum memenuhi kriteria tersebut.
Angka I-NAMHS menggambarkan seberapa banyak remaja mengalaminya, bukan apa penyebabnya. Jangan menyambungkannya langsung dengan angka 70 persen di artikel ini.
Kajian kami sebelumnya tentang media sosial dan kesehatan mental memberi latar yang bisa dibaca berdampingan.
Hati-Hati: Ada Beberapa Angka “70 Persen” yang Berbeda
Saat menelusuri topik ini, kami menemukan setidaknya tiga angka 70 persen yang sering tertukar:
- 70 persen Gen Z sering membandingkan hidup secara daring. Sumbernya IDN Research Institute, Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025. Inilah angka yang dibahas artikel ini.
- 70 persen remaja mengalami cemas dan depresi. Sejumlah media Indonesia mengaitkannya dengan Pew Research Center. Itu studi lain, dengan populasi dan pertanyaan yang berbeda.
- 70 persen responden dengan tingkat FOMO yang sering dipicu konten teman. Angka ini dari makalah seminar mahasiswa Universitas Negeri Surabaya 2024, yang memakai kuesioner sendiri.
Menyebut ketiganya sebagai satu “survei 70 persen” akan menyesatkan pembaca. Selalu tulis nama lembaga, tahun, dan pertanyaannya.
Hubungannya dengan Durasi Media Sosial
Durasi dan perbandingan diri adalah dua hal berbeda. Seseorang bisa tiga jam sehari di WhatsApp untuk urusan keluarga tanpa membandingkan apa pun. Orang lain bisa membandingkan diri hanya dalam sepuluh menit melihat linimasa.
Data durasi nasional pun punya dua versi. We Are Social mencatat rata-rata sekitar 3 jam 7 menit per hari, termasuk menonton video. Sementara itu survei APJII 2026 tentang durasi media sosial warganet menunjukkan 82,8 persen pengguna berada di rentang 1โ3 jam.
Kedua angka itu mengukur waktu. Keduanya tidak mengukur apa yang dirasakan seseorang saat menatap layar.
Dari sisi pergaulan, ruang daring kini jadi tempat sosialisasi utama bagi banyak anak muda. Kami membahas pergeserannya di artikel tentang pola sosial Gen Z yang tidak lagi mengandalkan tatap muka. Semakin banyak interaksi terjadi di layar, semakin banyak pula bahan untuk dibandingkan.
7 Angka Kunci yang Perlu Anda Ingat
| # | Angka | Artinya | Sumber dan batas |
| 1 | 70% | Gen Z sering membandingkan hidup secara daring | IDN Research Institute via GoodStats, laporan diri |
| 2 | 58% | Milenial dengan kebiasaan serupa | IDN Research Institute via GoodStats, laporan diri |
| 3 | 30% dan 42% | Gen Z dan milenial yang sulit berhenti | IDN Research Institute via GoodStats, laporan diri |
| 4 | 55% | Gen Z yang merasa standar medsos merusak harga diri | IDN Research Institute via GNFI, laporan diri |
| 5 | 72% | Gen Z yang lelah akibat konten negatif | IDN Research Institute via GNFI, laporan diri |
| 6 | 34,9% | Remaja 10โ17 tahun dengan masalah kesehatan mental dalam 12 bulan | I-NAMHS 2022, bukan data khusus medsos |
| 7 | 2,6% | Remaja bermasalah kesehatan mental yang mengakses layanan | I-NAMHS 2022 via Green Network dan repositori akademik |
Kolom sumber sengaja dibuat lengkap agar mudah dikutip ulang. Salin kolom itu apa adanya saat Anda memakainya di laporan.
Cara Mengelola Kebiasaan Membandingkan Diri: 7 Langkah
Langkah di bawah adalah panduan praktis dari redaksi, bukan hasil uji klinis. Sumber yang kami baca tidak menguji efektivitas masing-masing langkah.
Cara mengelola kebiasaan membandingkan diri di media sosial: 1) ukur waktu layar, 2) catat pemicu, 3) kurasi akun, 4) bandingkan dengan diri sendiri, 5) beri jeda, 6) cari pengakuan di dunia nyata, 7) kenali tanda butuh bantuan.
- Ukur dulu. Buka Screen Time di iPhone atau Digital Wellbeing di Android. Catat rata-rata mingguan, bukan satu hari.
- Catat pemicunya. Perhatikan akun atau aplikasi mana yang membuat Anda merasa kurang. Polanya biasanya terlihat dalam seminggu.
- Kurasi umpan. Bisukan atau berhenti mengikuti akun yang konsisten membuat Anda merasa tertinggal. Ganti dengan akun yang memberi informasi, bukan pamer.
- Bandingkan dengan diri sendiri. Tanyakan: apa yang sudah berubah dibanding tiga bulan lalu? Ukuran ini tidak bergantung pada hidup orang lain.
- Beri jeda di jam rawan. Banyak orang membuka medsos saat lelah atau menjelang tidur. Tentukan satu jam tanpa layar yang bisa Anda jaga.
- Cari pengakuan di luar layar. Ngobrol langsung dengan keluarga atau teman dekat. Dalam I-NAMHS, kegiatan yang paling banyak dilaporkan remaja untuk menjaga kesehatan mental adalah hal menyenangkan (55,4 persen), relaksasi atau meditasi (48,4 persen), dan berdoa (45,4 persen).
- Kenali tanda butuh bantuan. Kalau perbandingan diri mengganggu tidur, kerja, belajar, atau hubungan, bicarakan dengan orang tepercaya atau tenaga profesional.
Kapan Perlu Bantuan Profesional?
Membandingkan diri sesekali wajar. Perlu bantuan ketika rasa cemas atau rendah diri bertahan berminggu-minggu dan mulai mengganggu aktivitas harian.
I-NAMHS mencatat hanya 2,6 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan konseling atau kesehatan mental. Artinya, sebagian besar yang mengalaminya belum mencari bantuan.
KemenPPPA menyebut ada 257 Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) di Indonesia yang menyediakan konseling awal bagi anak dan keluarga. Puspaga bisa mengarahkan ke layanan lanjutan bila perlu. KemenPPPA sendiri mengakui jumlah itu belum mencukupi untuk sekitar 80 juta anak Indonesia.
Bagi dewasa, psikolog, psikiater, dan puskesmas adalah titik awal yang umum. Latar mengapa banyak orang enggan mencari bantuan kami bahas di tulisan tentang stigma kesehatan mental di Indonesia.
Jika Anda sedang merasa sangat tertekan atau berpikir menyakiti diri sendiri, segera hubungi orang terdekat atau layanan darurat setempat.
Panduan untuk Pendidik, Tim HR, dan Pembuat Konten
Bagian ini berisi rekomendasi redaksi. Isinya bukan temuan riset.
Untuk sekolah dan kampus. Bahas perbandingan sosial sebagai topik literasi digital, bukan sekadar soal durasi layar. Angka 70 persen bisa menjadi pembuka diskusi, asalkan guru menyebut tahun dan sumbernya.
Untuk tim HR dan pengelola komunitas. Jangan menyimpulkan kondisi karyawan Anda dari survei nasional. Cara paling jujur adalah survei internal singkat dan anonim dengan pertanyaan yang jelas. Hasilnya menjadi data milik organisasi Anda sendiri.
Untuk pembuat konten dan jurnalis. Tiga aturan menjaga akurasi:
- Tulis nama lembaga, nama laporan, dan tahun survei.
- Bedakan tahun terbit artikel dengan tahun pengambilan data.
- Jangan campur angka 70 persen dari studi yang berbeda.
Ingat juga bahwa konten tentang kesehatan mental perlu nada yang hati-hati. Hindari judul yang menyiratkan bahwa medsos pasti menyebabkan kecemasan.
FAQ: Survei 70 Persen Gen Z Sering Membandingkan Diri
Apa isi survei 70 persen Gen Z sering membandingkan diri?
Survei ini bagian dari Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 dari IDN Research Institute. Sebanyak 70 persen responden Gen Z mengaku sering membandingkan hidupnya dengan orang lain secara daring, dibanding 58 persen milenial. Ringkasan media menyebut kebiasaan ini memperburuk rasa cemas dan depresi. Data berasal dari laporan diri responden.
Benarkah membandingkan diri di medsos menyebabkan cemas?
Data yang ada menunjukkan keterkaitan, bukan sebab-akibat yang terbukti. Responden melaporkan dampak buruk, dan survei McKinsey Health Institute menemukan Gen Z dengan lebih dari dua jam medsos per hari cenderung punya kondisi mental lebih buruk. Keduanya survei sesaat, jadi arah hubungannya belum bisa dipastikan.
Bagaimana cara berhenti membandingkan diri di media sosial?
Cara berhenti membandingkan diri di media sosial: 1) ukur waktu layar mingguan, 2) catat akun yang memicu rasa kurang, 3) bisukan akun tersebut, 4) bandingkan diri dengan kondisi Anda tiga bulan lalu, 5) tentukan jam tanpa layar. Jika tetap mengganggu aktivitas, bicarakan dengan profesional.
Apakah angka 70 persen mewakili seluruh Gen Z Indonesia?
Belum tentu. Menurut ringkasan BINUS, survei ini melibatkan 750 responden Gen Z di 12 daerah pada Mei 2024. Hasilnya menggambarkan responden itu, bukan seluruh Gen Z Indonesia. Pakai angka ini sebagai indikasi arah, dan sebut selalu tahun serta cakupannya.
Catatan Metodologi dan Sumber
- Data utama: IDN Research Institute, Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025, dibaca lewat ringkasan GNFI (19 Juni 2026) dan GoodStats. Laporan asli: PDF IDN Times.
- Konteks global: CNBC Indonesia, merujuk McKinsey Health Institute (survei Gen Z 2022).
- Kesehatan mental remaja: I-NAMHS 2022 melalui KemenPPPA di Suara Surabaya (21 Juli 2026) dan penjelasan perbedaan masalah dan gangguan dari UNAIR.
- Keterbatasan: Kami tidak membuka PDF laporan asli secara langsung. Angka ketergantungan pada validasi medsos tidak dipakai karena ringkasan GNFI memuat dua versi yang berbeda. Hitungan di bagian Analisis Redaksi adalah estimasi redaksi.









